Ardi Anthology

Thursday, June 29, 2006

Makhluk Hidup Bernama Kebiasaan

Kebiasaan merupakan perilaku yang terlalu sering diulang sehingga kita melakukan perilaku tersebut tanpa berpikir lagi. Kebiasaan merupakan pilot otomatis dalam kehidupan kita, ia bisa memudahkan hidup kita juga bisa mempersulit hidup kita. Kebiasaan memudahkan kita dalam hal melakukan hal-hal yang rutin seperti berbicara, berjalan, berpikir, pergi dan bangun tidur, dan hal-hal lainnya sehingga kita tidak perlu berpikir setiap kali kita menghadapi situasi atau melakukan sesuatu yang kita lakukan berulang-ulang. Di sisi lain kebiasaan juga bisa dan sering terasa menyulitkan kita, kebiasaan seperti ini sering disebut kebiasaan buruk. Pada awalnya, kita hanya melakukan suatu perilaku yang mungkin hanya iseng, atau mungkin terlihat menyenangkan bagi kita seperti merokok, menunda pekerjaan, berbicara tentang hal-hal yang tidak perlu, mengeluh, dan sejuta kebiasaan buruk yang harus dihadapi oleh miliaran manusia di muka bumi. Kebiasaan, oleh karena itu bukanlah sesuatu yang buruk atau baik, semua itu tergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Bagaimanapun kebiasaan juga merupakan ciptaan Tuhan, dan Tuhan tidak menciptakan sesutau tanpa tujuan, Ia juga tak mungkin menciptakan sesuatu dengan sia-sia.

Kebiasaan bukanlah benda mati, ia hidup dan memiliki kehidupannya sendiri. Salah satu ciri dari makhluk hidup adalah mempertahankan kelangsungan hidupnya. Itu sebabnya kebiasaan sulit sekali dihilangkan. Karena sebagai makhluk hidup ia ingin terus hidup, tidak peduli betapapun buruk efek yang terjadi karena keberadaannya. Segala usaha untuk menghilangkan eksistensinya akan mendapat perlawanan mati-matian. Jika engkau memukulnya ia akan balik menghantammu. Jika engkau berteriak kepadanya bahwa engkau akan membunuhnya, ia akan balik berkata lantang bahwa ia akan terus hidup selama engkau hidup. Namun kebiasaan bukanlah makhluk hidup yang berakal seperti manusia, ia lebih seperti hewan; hidup dengan mengikuti instingnya. Dan insting bertahan hidup merupakan insting terkuatnya. Jadi jangan terlalu mengambil resiko dengan mencoba membunuhnya, apalagi dengan terang-terangan menyatakan perang. Salah-salah engkau bisa terlibat dalam peperangan tanpa akhir. Atau mungkin lebih buruk lagi, ia menjadi lebih kuat karena engkau dengan tekun melatihnya tentang bagaimana bertahan hidup.

Sebagai makhluk hidup, kebiasaan juga butuh makan. Semakin besar ukuran sebuah kebiasaan, semakin besar kebutuhan makannya. Ia makan setiap kali kita mengulang kebiasaan tersebut. Semakin sering kita melakukan suatu kebiasaan, semakin besar dan kuatlah ia. Sayangnya kita sebagai manusia yang menjadi induk semang yang memberinya makan kadang tak bisa mengontrol pola makannya. Jika kita mencegahnya untuk makan itu berarti kita telah mengancam kelangsungan hidupnya. Dan anda tahu apa yang terjadi jika kita mengancam kelangsungan hidupnya?

Lalu jika upaya menyingkirkan kebiasaan buruk merupakan usaha yang sia-sia, apakah kita harus berhenti berusaha menghilangkan kebiasaan tersebut dalam hidup kita? Apakah kita akan selamanya membiarkan kebiasaan buruk tersebut menemani diri kita? Apakah itu berarti kita menyerah terhadap kebiasaan buruk? Mungkin komentar-komentar seperti ini yang muncul jika anda membaca artikel ini. Tapi tunggu dulu artikel ini belum selesai. Kebiasaan memang tak bisa dengan sengaja dibunuh. Namun tidak berarti ia tidak bisa mati. Sebagai makhluk hidup, kebiasaan juga punya insting bahwa kelak maut akan menjemputnya. Ingat dengan kisah katak yang mati perlahan di ketel yang dipanaskan perlahan. Apakah katak itu melawan? Apakah katak itu akhirnya mati? Kebiasaan, seperti dikatakan diatas lebih mirip seperti hewan, seperti katak tadi. Anggap saja kebiasaan buruk itu sebagai hewan yang terbiasa hidup di tempat yang gelap dan dingin, dan tempat itu adalah diri kita. Karena memang kita jarang sekali merasa bahwa diri kita sebegitu buruknya. Jadikanlah tempat yang gelap dan dingin itu menjadi tempat yang terang dan hangat oleh pancaran cahaya. Manusia hampir mustahil mengubah tempat gelap yang dingin menjadi tempat terang yang hangat dalam semalam. Namun dalam jangka panjang setiap manusia bisa. Dengan berubahnya habitat kebiasaan secara perlahan,ia tidak akan merasakan ancaman dalam hidupnya. Ia tetap ada, namun tanpa disadari kondisinya semakin lemah. Dan ketika akhirnya ia sadar kondisi mengancam hidupnya ia sudah terlalu lemah untuk melawan, bahkan ia tak tahu siapa yang harus ia lawan. Dan ia beranggapan bahwa ia mati karena itu sudah takdirnya.

Jadi berhentilah melawan kebiasaan buruk anda. Berhentilah memusuhinya. Berhentilah menyanggah keberadaannya. Terimalah ia sebagai bagian dari dirimu, setiap manusia memiliki sisi putih dan sisi hitam. Biarkan ia melakukan dulu tugasnya sebagai sisi hitam. Dan disaat yang bersamaan berkomitmenlah untuk memfokuskan sebagian besar perhatianmu pada kebaikan yang ingin kau raih. Jika kebiasaan itu muncul, terimalah ia sebagai bagian dari dirimu. Teruslah berfokus pada kebaikan yang ingin anda raih. Dan anda akan merasakan kebiasaan itu lebih jarang muncul, dan pada akhirnya engkau akan heran kemana kebiasaan itu pergi.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home